Menapak Langit di Tanah Wamena

Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang…aku cukup senang
Dan akupun tenang
-Lembah Baliem, Slank (2001)

 Tanah yang subur nan kaya di bumi Wamena senantiasa menopang kehidupan suku-suku yang mendiaminya selama ribuan tahun. Namun dibalik pegunungannya yang megah dan perkebunannya yang membentang luas, Wamena tidaklah melulu soal babi dan ubi.

dsc_0041-1
Pemandangan di sebuah desa di Wamena

 Negeri di atas Awan
Wamena merupakan sebuah distrik dan sekaligus ibukota dari Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Distrik ini terletak di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah yang masih merupakan jajaran Pegunungan Jayawijaya. Dengan ketinggian sekitar 1500-2000 meter di atas permukaan laut, suhu udara di Wamena terasa sejuk di siang hari dan dingin di malam hari. Pada ketinggian ini, hamparan awan yang terlukis di langit yang biru pada pagi dan siang hari terasa sangat dekat, sehingga sebutan negeri di atas awan untuk Wamena bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dikarenakan letaknya yang dikelilingi oleh pegunungan, satu-satunya akses menuju Wamena dari luar adalah melalui jalur udara.

Dari segi bahasa, Wamena merupakan gabungan dua kata dari Bahasa Dani yaitu wa dan mena yang berarti babi jinak. Namun wa juga diucapkan beberapa kali sebagai ungkapan umum untuk salam atau berterimakasih di Wamena. Maka jangalah heran apabila warga Wamena menyalami Anda sembari mengucapkan wa..wa..wa. Terdapat tiga suku yang mendiami wilayah Wamena, yaitu Dani, Lani dan Yali. Suku Dani merupakan suku mayoritas yang mendiami wilayah ini.

Disambut Perang
Bertolak dari pusat kota Wamena, saya langsung menuju Desa Sekan. Perjalanan darat yang ditempuh selama kurang lebih satu jam tersebut awalnya berjalan cukup mulus. Jalan aspal yang berada di dalam kota Wamena masih dapat dinikmati. Namun pada suatu titik, jalan mulus tersebut mulai hilang dan berubah menjadi jalanan yang licin dan berbatu.

dsc_0125-1
Pertunjukan perang

Desa Sekan hanyalah salah satu desa yang didiami oleh suku asli di Wamena, yaitu Suku Dani. Mereka juga mendiami desa-desa lainnya yang terpencar di Kabupaten Jayawijaya. Kedatangan saya langsung disambut oleh “peperangan” antara sesama Suku Dani. Tentu saja ini bukanlah perang sungguhan, hanya adegan peperangan yang diperagakan. Peragaan ini ditutup oleh nyanyian-nyanyian pembangkit semangat dan penyambutan, dan sayapun dipersilahkan oleh Kepala Suku untuk memasuki kediamannya beserta keluarga kecilnya. Kediaman sang Kepala Suku terdiri dari tiga bagunan rumah adat khas Papua yang disebut Honai. Satu Honai yang berbentuk panjang, khusus untuk para wanita dan dua Honai berbentuk kerucut untuk para pria. Honai tersebut dikelilingi pagar kayu dan terdapat sebuah perkarangan kecil yang biasa digunakan untuk berbagai upacara adat, hingga tempat bermain anak-anak. Para “tuan rumah” pun kembali menyambut saya dengan tari-tarian dan nyanyian-nyanyian yang kali ini didominasi oleh kaum wanita. Usai penyambutan, sang Kepala Suku kemudian mengambil sebilah kayu dan seutas serat rotan. Serat rotan tersebut diletakkan di antara kayu dan dedaunan kering. Serat rotan yang digesek di badan kayu secara perlahan lambat laun menghasilkan panas yang cukup sehinggamembakar daun-daun kering yang berada dibawahnya. Api yang telah menyala ini kemudian diletakkan di tumpukan kayu bakar. Upacara adat Bakar Batu pun dimulai…

compile
Suku Dani – Suku mayoritas di Wamena

 Tradisi Adat Bakar Batu
Bakar Batu merupakan tradisi adat yang masih dipraktikan tidak hanya oleh Suku Dani, namun oleh hampir seluruh masyarakat adat Papua, khususnya mereka yang tinggal di pegunungan. Tradisi Bakar Batu digelar untuk berbagai tujuan, dari perayaan, syukuran, silaturahim antar keluarga hingga untuk berperang dan menyatakan perdamaian setelah berperang. Bakar Batu juga digelar dalam rangka menyambut hari raya seperti Natal dan penyambutan tamu-tamu penting seperti Presiden, Gubernur dan/atau Bupati.

dsc_0532-1
Tradisi Bakar Batu

Tradisi Bakar Batu pada dasarnya merupakan kegiatan memasak dan makan bersama. Hidangan yang disajikan dimasak menggunakan batu-batu yang dibakar hingga membara  Salah satu hidangan khas masyarakat Papua dalam tradisi ini adalah daging babi. Sebelum dimasak, babi secara simbolik dipanah terlebih dahulu oleh Kepala Suku untuk kemudian dikuliti dan dipotong-potong. Batu-batu yang telah dipanas sebelumnya dimasukkan ke dalam lubang yang beralaskan  daun pisang dan rumput ilalang untuk kemudian dilapisi kembali dengan daun pisang dan rumput ilalang. Pada lapisan ini barulah diletakkan daging babi yang telah dipotong-potong. Daging babi tersebut kembali dilapisi dedaunan pisang dan rumput ilalang serta batu-batu panas. Pada lapisan diatas daging babi, diletakkan hidangan lainnya seperti ubi, jagung dan sayur-sayuran. Tumpukan dedaunan pisang, ilalang, batu panas dan hidangan tersebut kemudian diikat menggunakan akar atau rotan dan didiamkan selama kurang lebih setengah jam. Metode masak seperti ini dikenal dengan nama earth oven atau pit cooking, yang merupakan salah satu cara memasak yang tertua di dunia. Setelah masak, hidangan tersebut akan disantap bersama-sama.

Versi lain artikel ini pernah dimuat dalam:
NOW! Jakarta
“The Burning Rocks of Wamena”
April 2016
http://nowjakarta.co.id/burning-rocks-wamena/ (18 April 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s