Keindahan Gugusan Bukit Karst di Labengki dan Sombori

Meskipun sudah mulai dikenal sejak tahun 2015, masih banyak wisatawan yang belum terlalu banyak mengetahui pesona wisata dari Pulau Labengki dan Pulau Sombori. Keindahan gugusan bukit karst yang terdapat di kedua pulau ini kerap disandingkan dengan Raja Ampat, Papua. Maka tidak heran apabila banyak orang menyebut Labengki dan Sombori sebagai ‘miniatur Raja Ampat.’

Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. Matahari pun terasa menyengat. Pelabuhan Kota Lama Kendari terasa sepi pada hari itu. Tidak terlalu banyak aktifitas yang terlihat meskipun sejumlah kapal kontainer terlihat memadati sisi pelabuhan. “Kita tunggu disini sebentar. Perahu motornya masih dalam perjalanan,” ujar pemandu saya yang bernama Lalang. Saya pun berteduh di bawah atap sebuah warung yang sedang tutup untuk bersembunyi dari teriknya sang surya. Tidak perlu lama menunggu, perahu motor yang dinanti pun datang.

Pada hari itu saya akan berlayar menuju Pulau Labengki dan Pulau Sombori. Lalang berkata bahwa waktu tempuh dari Kendari ke Labengki cukup satu setengah jam saja. Namun apabila kondisi laut sedang tidak bersahabat, jarak tempuh dapat saja mencapai dua atau bahkan tiga jam. Saat itu sayapun sedang beruntung, karena laut dan cuaca cukup mendukung sehingga waktu tempuh sesuai dengan perkiraan.

1
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, sayapun sampai di Pulau Labengki.

Labengki merupakan sebuah pulau yang termasuk dalam Kabupaten Konawe Utara (Sulawesi Tenggara). Labengki terdiri dari dua pulau utama yaitu Labengki Besar dan Labengki Kecil. Mayoritas objek wisata di Labengki berada di Labengki Besar, sedangkan Labengki Kecil merupakan pulau yang digunakan untuk hunian penduduk. Para penghuni pulau ini adalah Suku Bajo. Meskipun Labengki Besar tidak berpenghuni, terdapat sejumlah staf yang bekerja di resort dan penginapan disini. Penduduk di Labengki Kecil juga sering berkunjung ke Labengki Besar untuk mengambil air tawar yang bersumber di pulau tersebut. Berbeda dengan Labengki, Sombori adalah sebuah pulau yang terletak di Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah).

Kedua pulau menawarkan keindahan panorama laut yang dapat dilihat di atas bukit-bukit karst. Selain itu, keindahan bawah laut Labengki dan Sombori juga tidak kalah menarik. Terumbu karang dan ekosistem laut di perarian kedua pulau masih terawat dengan baik.

Teluk Cinta, Danau Kembar dan Blue Lagoon
Salah satu lokasi wisata paling khas di Labengki adalah Teluk Cinta. Disini wisatawan dapat menikmat pemandangan gugusan bukit karst dan hamparan biru laut dari ketinggian. Untuk itu para wisatawan harus mendaki bukit terlebih dahulu. Pendakian disini tidaklah terlalu sulit karena jalur setapak dan tangga sudah dibuat untuk memudahkan wisatawan mencapai puncak teratas.  Teluk Cinta mendapatkan namanya dari bentuknya yang menyerupai hati. Bentuk ini hanya dapat dilihat dari ketinggian dengan menggunakan kamera/video drone yang dilayangkan ke udara.

2
Teluk Cinta: telah tersedia tangga untuk memudahkan wisatawan mencapai puncak.

Selain Teluk Cinta, saya juga mengunjungi Danau Kembar dan Blue Lagoon. Disini wisatawan dapat melihat sebuah danau atau laguna tersembunyi di balik bukit-bukit karst yang tinggi. Pemandangan di kedua tempat ini juga harus dicapai dengan cara mendaki. Pendakian kali dapat dibilang lebih sulit. Medan berupa bebatuan karst yang tajam dan alami mengharuskan para wisatawan untuk ekstra hati-hati, khususnya dalam mencari pijakan kaki. Upaya mendaki yang cukup sulit tersebut terbayar dengan pemandangan memukau berupa danau atau laguna dengan air yang bening berwarna hijau kebiru-biruan.

3
Danau Kembar: wisatawan harus melalui medan bebatuan yang terjal dan tajam untuk menikmati pemandangan disini.

Objek wisata di Labengki tidak melulu harus dicapai dengan mendaki. Disini terdapat pantai berpasir putih yang tenang dan sepi dengan ombak kecil. Beberapa pantai tersebut dapat ditemukan di Pasir Panjang dan Torohkampali.

Menelusuri Gua di Sombori
Setelah menjelajahi beberapa lokasi di Labengki, maka saya kembali berlayar dengan perahu motor. Kali ini saya harus berlayar ‘lintas propinsi’ menuju Sombori di Sulawesi Tengah. Meskipun terletak pada propinsi yang berbeda, kedua pulau tersebut berjarak sangat dekat, yaitu hanya sekitar 45 menit perjalanan menggunakan perahu motor.

4
Pulau Sombori yang secara administratif termasuk dalam wilayah Sulawesi Tengah.

Beberapa gua besar dapat ditemukan di Sombori. Gua pertama yang saya kunjungi adalah Gua Alo. Gua ini merupakan rumah dari ribuan kelelawar yang bersarang di langit-langit gua. Suara decitan kelelawar pun terdengar ketika saya memasuki mulut gua.

5
Mulut Gua Alo yang besar.
6
Gua Alo (bagian dalam).

Gua kedua yang saya kunjungi adalah Gua Berlian. Konon, gua ini mendapatkan namanya dari pancaran stalaktit yang bersinar apabila tersapu cahaya-layaknya sebuah berlian. Gua ini diyakini memiliki cerita sejarah yang sangat panjang, karena terdapat berbagai bukti bahwa manusia pernah mendiami gua ini pada masa lampau. Bahkan, sebelumnya pernah ditemukan tulang belulang manusia yang diyakini merupakan para penghuni gua ini. Namun tulang belulang tersebut sudah tidak ada ketika saya berkunjung disana. Namun yang menarik adalah ditemukannya cangkang-cangkang kerang yang menumpuk di lantai gua. Saya menjadi ingat pelajaran sejarah pada saat saya duduk di bangku SMA. Kjokkenmodinger merupakan sebuah istilah untuk sampah dapur berupa kulit kerang atau siput yang telah menumpuk sehingga membentuk fosil.

7
Stalaknit di dalam Gua Berlian.
8
Sampah kerang berserakan di lantai Gua Berlian

Sombori juga menyajikan panorama laut dan gugusan bukit-bukit karst identik seperti Labengki, salah satunya adalah di Pulau Kayangan. Jalur untuk mendaki hingga puncak bukit lagi-lagi dapat dikatakan cukup menantang. Saya harus kembali mendaki diantara bukit karst dan berpijak diantara bebatuan yang tajam dan berpegangan pada batang pepohonan. Namun, seluruh perjuangan itu terbayar dengan pemandangan yang luar biasa.

Bercengkerama dengan Masyarakat Bajo di Labengki Kecil
Sebelum kembali ke peginapan di Labengki Besar, saya diajak untuk mengunjungi Labengki Kecil dan berinteraksi dengan masyarakat Bajo yang menghuni di pulau ini. Menurut sejarah, Suku Bajo berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina. Namun karena mereka kerap berpindah tempat dan hidup di atas laut, merekapun tersebar ke berbagai wilayah antara lain di Malaysia (Sabah) dan Indonesia (Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan bahkan mencapai Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur). Para masyarakat Bajo disini pada umumnya mencari nafkah sebagai nelayan. Namun ada pula yang menjadi guru atau berdagang dengan membuka warung di pulau ini.

10
Dermaga Pulau Labengki Kecil

Saya tiba di Labengki Kecil pada pukul 16.00 sore. Di waktu ini dermaga pulau selalu diramaikan oleh anak-anak kecil yang bermain-main di pantai dan berenang di laut. Anak-anak tersebut tanpa lelah menceburkan diri ke laut dan kemudian menaiki dermaga untuk kembali meloncat ke air. Tawa riang dari anak-anak mengiringi kedatangan saya di dermaga Labengki Kecil.

11
Anak-anak Suku Bajo di Labengki Kecil

Labengki Kecil juga merupakan lokasi shooting film Suara Anak Pesisir yang dirilis sekitar bulan Maret 2017 lalu. Film ini merupakan produksi asli anak negeri dari Kendari yang menceritakan kehidupan pesisir dan kebudayaan Suku Bajo di Labengki. Saya pun bertemu dengan Erik, seorang anak Bajo yang memainkan peran dalam film tersebut.

Tanpa terasa, waktu pun menunjukkan pukul 17.00. Sayapun kembali menaiki perahu motor untuk bertolak kembali ke penginapan untuk beristirahat dan menikmati malam terakhir di Labengki. Esok paginya saya pun kembali ke Kendari.

Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Sriwijaya Magazine edisi Juli 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s